Minggu, 10 Agustus 2008

MENJADI ORANG TUA SEKALIGUS TEMAN BAGI ANAK

Dewasa ini sebuah fenomena baru telah terjadi dalam hubungan antara orang tua serta proses perkembangan anak dalam keluarga. Bila pada tahun 1920-an orang tua cenderung bersikap layaknya komandan pasukan yang mengharuskan anaknya patuh tanpa syarat, kini sedikit demi sedikit orang tua cenderung memberi penekanan pada proses pembentukan tanggung jawab dan bersikap toleran terhadap perbedaan.

Setiap perubahan tentunya dilatarbelakangi tujuan yang baik. Perubahan ini bisa jadi disebabkan karena banyak orang tua yang tidak ingin menerapkan pola hubungan orang tua anak yang serupa dengan orang tuanya di kala kecil. Pola komunikasi yang terbuka dan bisa berbicara dengan anak dari hati ke hati lebih diusahakan sehingga anak pun merasa lebih nyaman.

Meski belum diketahui dengan pasti persentase orang tua yang sudah memulai perubahan tersebut, namun hal ini menunjukkan hal yang baik. Beberapa orang mengalami kehidupan keluarga yang demokratis tidak saja memberi perasan nyaman tapi juga menumbuhkan sikap positif lainnya. Beberapa penelitian mengatakan, rasa aman yang diperoleh anak dapat menumbuhkan kematangan emosi, mendukung anak dalam proses belajar, memiliki tingkat sosialisasi yang cukup baik dan memiliki kecenderungan menjadi pemimpin di tengah lingkungannya. Hal ini bisa jadi disebabkan pola kedisiplinan dan tanggung jawab yang diterapkan di rumah tanpa adanya unsur paksaan.

Disamping itu, banyak orang tua yang mengatakan bahwa mereka berharap dapat menjadi sahabat bagi anaknya. Sebenarnya tidak ada yang salah dari hal ini, namun bila kebablasan kan menjadi bumerang. Seharusnya setiap orang tua tetap menunjukkan perannyasebagai orang tua dengan adanya peraturan dan bimbingan yang memadai bagi anak. Setiap peraturan yang dibuat dapat dikomunikasikan kepada anak dengan memberi penjelasan mengenai baik buruknya.

Kadang cara memberi larangan dari orang tua kepada anak dapat berpengaruh secara signifikan.Misalnya bila anak ingin bermain keluar di saat jam tidur siang, cobalah enghindari kata "TIDAK" dan diganti dengan kata "YA" boleh, tetapi nanti setelah tidur siang". Meski terdengar sepele namun seorang anak tidak akan merasa terus menerus mendapat kata penolakan dengan kata "TIDAK" sehingga lebih dapat menerima dengan baik serta mematuhinya. (diambil dari Fitur Klasika , KOMPAS edisi Minggu 10 Agustus 2008)

1 komentar:

Unknown mengatakan...

Jika kita (sebagai orang tua) kalau sudah dianggap teman oleh anak kita, maka mereka akan membagi masalahnya dengan kita... Sehingga kita akan semakin lebih dekat dengan anak kita..

Thanks buat tips-nya...