Jumat, 08 Agustus 2008

MENCETAK ANAK SUKSES : GENERASI EMAS DI MASA YANG AKAN DATANG

Judul yang ditulis di atas "Mencetak Anak Sukses" rasanya aneh, anak sukses kok dicetak...memangnya anak seperti batik, atau gambar ? Pendapat tersebut tentunya memang wajar-wajar saja karena di zaman sekarang mendidik anak ternyata bukan perkara mudah. Anak-anak yang ketika kecil menggemaskan, lucu dan menarik begitu tumbuh menjadi remaja dewasa berbalik menjadi pribadi yang menjengkelkan, ngeyel dan selalu menentang. Kondisi yang demikian diperparah dengan sikap orang tua yang tidak berbeda dengann sikap anak-anaknya yang menginjak dewasa..jadi sama-sama ngeyelnya, dan menjengkelkan ditinjau dari kedua belah pihak. Orang tua di satu pihak menginginkan anak kesayangannya patuh, alim, sopan, rajin dsb sesuai kriteria orang tua menemui kenyataan lain pada realitanya. Pada saat yang demikian orang tua menjadi frustrasi yang berdampak pada kesalahan dalam mengambil sikap kepada anak. Demi mengubah karakter anak agar sesuai dengan "selera" orang tua maka diambilnya hak otoritas sebagai orang tua untuk memaksa anak mengikuti kehendaknya dengan ancaman dan paksaan. Di lain pihak anak remaja menuju dewasa mulai merasakan bahwa dirinya bukan lagi anak-anak yang pantas untuk diperlakukan seolah bayi yang belum punya pribadi serta menentukan pilihan. Apabila kejadian seperti ini berlangsung terus menerus dalam waktu yang lama maka hampir dapat dipastikan orang tua akan kehilangan anaknya (dalam arti kedekatan secara psikologis antara orang tua dengan anak terganggu).

Pendidikan anak sejak dini merupakan kunci menuju pribadi sukses di masa dewasa. Orang tua perlu memahami kebutuhan kasih sayang dan perhatian terhadap anak sesuai dengan usia anak tersebut. Hali ini diharapkan kebutuhan kasih sayang dan perhatian dapat seiring sejalan dengan kepercayaan orang tua terhadap anak-anaknya.

Orang tua perlu memahami kelakuan anak yang tentunya dalam batas-batas kewajaran disesuaikan dengan pertambahan usia anak. Kenakalan anak-anak pada usia tertentu sebenarnya bukan cerminan seperti itulah kelak jika dia dewasa.

Beberapa ahli di Barat (baca Amerika dan Eropa) sudah mulai mengenalkan anak-anak sejak dalam kandungan suatu metode komunikasi baik dalam bentuk verbal maupun rangsangan-rangsangan yang bersifat musikal. Hal ini masih menurut para ahli cukup signifikan pengaruhnya terhadap kecerdasan dan kemampuan anak dalam beradaptasi serta merespon lingkungannya ketika anak sudah berada di dunia. Bahkan penulis telah mencoba serta menerapkan metode tersebut dan Puji Tuhan memang hal tersebut nyata.

Memulai komunikasi sejak janin masih dalam kandungan merupakan hal yang sangat perlu untuk membangun ikatan emosional baik antara anak dengan ayah maupun ibunya. Ikatan emosional ini akan tetap terasa hingga janin menjadi bayi dan tumbuh menjadi anak-anak balita bahkan ketika remaja dewasa. Hubungan batin dan jalinan komunikasi non verbal antara orang tua dengan anak seolah terjadi begitu saja dan alami. Anak seolah mengerti terhadap maksud orang tua demikian pula sebaliknya. Bila kondisi yang demikian dapat tercipta maka suatu hal yang sangat mudah proses pendidikan dilakukan kepada anak. Ketika anak suatu ketika dianggap nakal maka orang tua tidak akan melakukan tindakan yang dalam persepsi anak memposisikan diri sebagai musuh yang harus dilawan tetapi justru sebagai orang yang penuh kasih sayang, perhatian yang mengarahkan menuju kebaikan bagi dirinya.

Mendidik dengan kasih dan tanpa bentakan serta umpatan yang tak perlu kepada anak merupakan bentuk dari penghargaan orang tua terhadap anaknya. Respon anak tentunya juga kan senada dengan sikap yang diberikan oleh orang tua kepada dirinya. Namun memang kesabaran dan kerendahhatian orang tua sangat diuji dalam hal ini karena sebagaian besar orang tua sudah punya konsep tertentu bagi anak-anaknya agar menjadi orang di kelak kemudian hari dan repotnya konsep ini dipaksakan serta harus diterima oleh anak tanpa syarat. Padahal tiap anak maupun pribadi tentunya unik sehingga tidak bisa serta merta diatur sesuai dengan kemauan orang lain meskipun orang tua sekalipun.

Anak-anak yang dibesarkan denga aturan-aturan "saklek" dan kaku akan tumbuh menjadi pribadi arogan yang pemberontak, dan karakter ini akan terbawa hingga dewasa dalam kehidupan sehari-harinya. Namun anak yang dibesarkann dalam aroma kebebasan yang bertanggungjawab hampir dapat dipastikan menjadi pribadi yang toleran serta egaliter. Dalam beberapa hal kadang orang tua pelit untuk memeuji terhadap "prestasi" anak-anaknya dan justru murah dalam "mencela" kesalahan anak, celakanya juga dalam mencela dilakukan di depan orang banyak. Punishment and Reward Mechanism perlu dilakukan dalam proses pendidikan anak. Lakukan pujian terhadap segal prestasi anak dan sesekali lakukan di depan orang lain namun pada giliran melakukan hukuman/teguran lebih baik secara pribadi dengan penuh rasa tanggung jawab serta kasih sayang.

Bila kita memandang ke arah yang lebih luas rasanya orang-orang yang sekarang menjadi dewasa dengan berbagai jabatan dan kedudukan namun perilakunya tidak pantas dicontoh (dapat dilihat di berbagai mass media)adalah produk kesalahan pendidikan orang-orang tua di masa lalu. Belajar dari itu semua mari kita orang tua mencoba untuk menerapkan pendidikan yang benar agar sejarah masa kini tidak terulamng di masa yang akan datang. Ada ungkpan yang mengatakan "Pendidikan yang benar akan menghasilkan generasi yang benar, pendidikan yang salah hanya akan memperbanyak generasi sesat di zamannya". Mari kita didik anak-anak kita menjadi generasi yang sukses, kita mulai dari keluarga kita. (Nugi)

Tidak ada komentar: