Sabtu, 21 September 2019
Senin, 04 Maret 2013
Sabtu, 26 November 2011
Ruang Belajar Masyarakat: Mengapa Perlu ada RBM
Ruang belajar masyarakat telah coba diperkenalkan oleh PNPM Mandiri Perdesaan semenjak tahun 2010 bersamaan dengan pelaksanaan pilot project P2SPP (Program Pengembangan Sistem Perencanaan Pembangunan Partisipatif) yang selanjutnya diberlakukan pula secara umum untuk seluruh kabupaten lokasi kegiatan PNPM Mandiri Perdesaan. "Mainan" baru berjudul ruang belajar masyarakat ini yang pada tahun 2010 saja belum dapat dilaksanakan secara sempurna di lokasi P2SPP harus sudah dipaksa dewasa untuk bisa berkembang dan tumbuh di lokasi non P2SPP. Secara prinsip kegiatan ruang belajar masyarakat tentu sangat ideal untuk mempersiapkan masyarakat melek dalam melakukan kegiatan demokrasi deliberatif. Melalui proses dan tahapan kegiatan masyarakat yang berpartisipasi dalam PNPM Mandiri Perdesaan sudah melakukan aktivitas pembelajaran masyarakat terutama di level desa dan kecamatan, terutama semenjak PNPM Mandiri Perdesaan sedikit mengubah salah satu prinsipnya yang semula kompetisi sehat menjadi demokrasi/musyawarah mufakat. Jika semula proses implementasi demokrasi deliberatif terwujud dalam penggalian gagasan serta musyawarah-musyawarah di berbagai tingkatan tetapi sayangnya harus diakhiri dengan adanya pungutan suara. Dan pada prakteknya justru pungutan suara inilah yang dikedepankan oleh pelaku untuk pengambilan keputusan dan bukan bagaimana forum bisa saling menghargai atau bersepakat meskipun tidak harus bulat. Pada pelaksanaan demokrasi perwakilan sebuah keputusan harus melalui sebuah kompetisi yang menghasilkan kemenangan, dan kekalahan satu pihak, maka demokrasi musyawarah lebih menonjolkan argumentasi, dialog, saling menghormati, dan berupaya mencapai titik temu dan mufakat. Slogan yang semula masyarakat harus bertanding (voting) untuk mencapai sesuatu kemudian digantikan bersanding (musyawarah), karena belakangan disadari bahwa kualitas demokrasi sebenarnya adalah bagaimana semua bisa saling bersepakat untuk kepentingan yang terbaik, dan hal ini sudah ada di Pancasila sila ke 4, yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Dalam substansinya PNPM Mandiri Perdesaan menggiring agar seluruh komponen masyarakat terbiasa melakukan pertemuan, rapat dan diskusi serta bentuk-bentuk pengorganisasian internal yang lain dengan harapan kelak menjadi sebuah kebiasaan dan bahkan keharusan.
Kembali ke ruang belajar masyarakat, kegiatan yang dikenal dengan RBM atau rubelmas ini pada realitasnya belum disadari oleh seluruh pelakunya sebagai sebuah pemberian public sphere kepada masyarakat untuk melakukan gerakan yang masif dengan tujuan yang jelas. Jika disimak berbagai kegiatan yang sudah dilaksanakan masih terbatas pada kegiatan yang bersifat keproyekan karena di dalamnya terdapat alokasi rupiah yang harus ditarget penyerapannya melalui pelaksanaan kegiatan-kegiatannya. Keberanian pengawal kegiatan (baca SPTR dan Faskab) dalam berinovasi sangat dibutuhkan sehingga tujuan rubelmas benar-benar dapat terealisir di tengah-tengah masyarakat. Penulis sebagai salah satu pelaku masih cukup ganggam dalam mencoba memandu agar ruang belajar masyarakat bisa berlangsung sedikit bebas hal ini mengingat panduan terlampau teknis. Menurut hemat penulis ruang belajar masyarakat harus diberi muara yang jelas, semisal berkaitan dengan kebijakan exit strategy PNPM Mandiri Perdesaan maka masyarakat perlu disadarkan untuk melakukan advokasi diri untuk bisa memanfaatkan ruang ini demi dapat ditetapkannya pola perencanaan yang partisipatif menjadi regulasi di kabupaten. Dengan tujuan akhir yang jelas maka pelaku dipersiapkan piranti-piranti yang sesuai dengan tujuan yang akan dicapai. Pada gilirannya seluruh aspek kegiatan yang ada pada kegiatan ruang belajar masyarakat harus mengarah pada tujuan akhirnya. Penulis menyadari juga bahwa pengambil kebijakan tentunya berharap ruang belajar masyarakat menjadi sebuah wahana masyarakat dalam pengembangan kapasitas sehingga apa yang diidekan oleh penulis mungkin menjadi terlalu sempit. Namun jika melihat realitas di lapangan (sebagian besar) kegiatan ruang belajar masyarakat menajdi sekedar tidak lebih sebagai sebuah pelatihan masyarakat di level kabupaten dan hal ini tentunya melenceng dari tujuan sebenarnya. Oleh karena itu agar ruang belajar masyarakat dapat dimainkan dengan cantik perlu adanya penyamaan persepsi tingkat nasional, yaitu menggunakan ruang belajar masyarakat untuk memuluskan agenda pengintegrasian PNPM Mandiri Perdesaan dengan perencanaan reguler daerah. Sehingga kegiatan-kegiatan di dalamnya adalah semacam kajian akademis tentang perencanaan partisipatif yang bisa melibatkan unsur NGO, perguruan tinggi, CSR, serta masyarakat peduli. Pelatihan CBM dan Advokasi hukum lebih mengedepankan bagaimana masyarakat pelaku ruang belajar masyarakat dapat melakukan kontrol kebijakan publik dan mendiskusikannya, melakukan penguatan kapasitas tentang kemungkinan proses penyusunan perda perda inisiatif oleh masyarakat dsb.
Lepas dari segala kelemahan dan kekurangan pelaksanaan ruang belajar masyarakat saat ini sebaiknya pemberian ruang tersebut tetap dilanjutkan di tahun depan, tentunya dengan persiapan yang lebih matang baik menyangkut kebijakan, aturan main serta penguatan kapaista pelaku fasilitatornya terutama spesialis provinsi dan fasilitator kabupaten. Viva Rubelmas ! (enpe).
Minggu, 10 Agustus 2008
MENJADI ORANG TUA SEKALIGUS TEMAN BAGI ANAK
Dewasa ini sebuah fenomena baru telah terjadi dalam hubungan antara orang tua serta proses perkembangan anak dalam keluarga. Bila pada tahun 1920-an orang tua cenderung bersikap layaknya komandan pasukan yang mengharuskan anaknya patuh tanpa syarat, kini sedikit demi sedikit orang tua cenderung memberi penekanan pada proses pembentukan tanggung jawab dan bersikap toleran terhadap perbedaan.
Setiap perubahan tentunya dilatarbelakangi tujuan yang baik. Perubahan ini bisa jadi disebabkan karena banyak orang tua yang tidak ingin menerapkan pola hubungan orang tua anak yang serupa dengan orang tuanya di kala kecil. Pola komunikasi yang terbuka dan bisa berbicara dengan anak dari hati ke hati lebih diusahakan sehingga anak pun merasa lebih nyaman.
Meski belum diketahui dengan pasti persentase orang tua yang sudah memulai perubahan tersebut, namun hal ini menunjukkan hal yang baik. Beberapa orang mengalami kehidupan keluarga yang demokratis tidak saja memberi perasan nyaman tapi juga menumbuhkan sikap positif lainnya. Beberapa penelitian mengatakan, rasa aman yang diperoleh anak dapat menumbuhkan kematangan emosi, mendukung anak dalam proses belajar, memiliki tingkat sosialisasi yang cukup baik dan memiliki kecenderungan menjadi pemimpin di tengah lingkungannya. Hal ini bisa jadi disebabkan pola kedisiplinan dan tanggung jawab yang diterapkan di rumah tanpa adanya unsur paksaan.
Disamping itu, banyak orang tua yang mengatakan bahwa mereka berharap dapat menjadi sahabat bagi anaknya. Sebenarnya tidak ada yang salah dari hal ini, namun bila kebablasan kan menjadi bumerang. Seharusnya setiap orang tua tetap menunjukkan perannyasebagai orang tua dengan adanya peraturan dan bimbingan yang memadai bagi anak. Setiap peraturan yang dibuat dapat dikomunikasikan kepada anak dengan memberi penjelasan mengenai baik buruknya.
Kadang cara memberi larangan dari orang tua kepada anak dapat berpengaruh secara signifikan.Misalnya bila anak ingin bermain keluar di saat jam tidur siang, cobalah enghindari kata "TIDAK" dan diganti dengan kata "YA" boleh, tetapi nanti setelah tidur siang". Meski terdengar sepele namun seorang anak tidak akan merasa terus menerus mendapat kata penolakan dengan kata "TIDAK" sehingga lebih dapat menerima dengan baik serta mematuhinya. (diambil dari Fitur Klasika , KOMPAS edisi Minggu 10 Agustus 2008)
Setiap perubahan tentunya dilatarbelakangi tujuan yang baik. Perubahan ini bisa jadi disebabkan karena banyak orang tua yang tidak ingin menerapkan pola hubungan orang tua anak yang serupa dengan orang tuanya di kala kecil. Pola komunikasi yang terbuka dan bisa berbicara dengan anak dari hati ke hati lebih diusahakan sehingga anak pun merasa lebih nyaman.
Meski belum diketahui dengan pasti persentase orang tua yang sudah memulai perubahan tersebut, namun hal ini menunjukkan hal yang baik. Beberapa orang mengalami kehidupan keluarga yang demokratis tidak saja memberi perasan nyaman tapi juga menumbuhkan sikap positif lainnya. Beberapa penelitian mengatakan, rasa aman yang diperoleh anak dapat menumbuhkan kematangan emosi, mendukung anak dalam proses belajar, memiliki tingkat sosialisasi yang cukup baik dan memiliki kecenderungan menjadi pemimpin di tengah lingkungannya. Hal ini bisa jadi disebabkan pola kedisiplinan dan tanggung jawab yang diterapkan di rumah tanpa adanya unsur paksaan.
Disamping itu, banyak orang tua yang mengatakan bahwa mereka berharap dapat menjadi sahabat bagi anaknya. Sebenarnya tidak ada yang salah dari hal ini, namun bila kebablasan kan menjadi bumerang. Seharusnya setiap orang tua tetap menunjukkan perannyasebagai orang tua dengan adanya peraturan dan bimbingan yang memadai bagi anak. Setiap peraturan yang dibuat dapat dikomunikasikan kepada anak dengan memberi penjelasan mengenai baik buruknya.
Kadang cara memberi larangan dari orang tua kepada anak dapat berpengaruh secara signifikan.Misalnya bila anak ingin bermain keluar di saat jam tidur siang, cobalah enghindari kata "TIDAK" dan diganti dengan kata "YA" boleh, tetapi nanti setelah tidur siang". Meski terdengar sepele namun seorang anak tidak akan merasa terus menerus mendapat kata penolakan dengan kata "TIDAK" sehingga lebih dapat menerima dengan baik serta mematuhinya. (diambil dari Fitur Klasika , KOMPAS edisi Minggu 10 Agustus 2008)
OUTBOND SARANA MEMOTIVASI ANAK
Outbond atau kegiatan bermain yang melibatkan keterampilan baik motorik maupun psikomotorik dapat dijadikan sebagai cara untuk membangun semangat dan motivasi bagi anak-anak. Keasyikan anak-anak dalam melakukan seluruh rangkaian outbond akan merangsang kepercayaan diri, kerja sama serta motivasi. Beberapa lembaga pendidikan dasar sekarang sudah mulai melirik kegiatan Outbond sebagai salah satu bentuk kegiatan untuk mengisi liburan sekolah. Bahkan beberapa diantaranya guru-gurunya juga turut terlibat aktif dalam games tersebut.
Pada masa liburan panjang, anak-anak sekolah biasanya akan mengisi waktunya dengan bermain, pergi ke tempat wisata maupun kegiatan lain yang sifatnya rekreatif. Namun tidak sedikit pula bagi anak-anak tertentu waktu liburannya justru tersita di rumah dengan bermain play station atau nonton film/TV, karena orang tuanya sibuk bekerja di luar rumah. Kondisi di mana saat anak- anak libur ternyata orang tua tetap bekerja seperti biasa mengakibatkan waktu libur yang idealnya dimanfaatkan untuk mendekatkan hubungan antara orang tua dengan anak justru terbuang sia-sia. Ada baiknya memang orang tua benar-benar berusaha meluangkan waktunya barang sesaat untuk anak-anaknya yang sedang libur sehingga kebutuhan perhatian dan afeksi dari orang tua terpenuhi. Outbond sebagai salah satu games yang mendidik dan bersifat rekreatif dapat dijadikan sarana untuk menghangatkan hubungan antara orang tua dengan anak. Dalam sehari penuh orang tua dan anak dapat terlibat langsung dalam rangkaian permaianan Outbond. Pada moment itulah hubungan orang tua dengan anak dapat cair dan akrab sehingga terkadang "batas" antara orang tua - anak menjadi terkesan samar digantikan dengan hubungan sahabat. Capai, pegal bahkan sedikit cedera seolah terlupakan begitu saja pada saat Outbond berlangsung. Kedekatan yang demikian akan menumbuhkan rasa percaya pada diri anak kepada orang tua sehingga pada gilirannya juga akan menumbuhkan sikap patuh tapi sayang kepada orang tuanya, hal ini juga dikatakan oleh pemerhati anak dari Surabaya LELY RACHMAWATI bahwa kegiatan yang melibatkan orang tua dan anak seperti halnya Outbond ditujukan Agar orang tua bersama anak-anak menjadi lebih dekat secara emosional. Selain membenagun motivasi anak, juga untuk lebih mendekatkan lagi antara orang tua dan anak. Juga untuk saling memperkenalkan antara orang tua dengan orang tua lainnya.
Seorang ahli pengembangan anak dari Klaten Sugita mengatakan, "Kecenderungan orang tua masa kini sibuk dengan beban tugas kerjanya masing-masing apalagi pada sebuah keluarga di mana kedua orangtuanya bekerja, kesempatan bercengkerama antara orang tua dengan anak menjadi suatu hal yang amat langka". Tidakterpenuhinya perhatian serta kedekatan emosional orangtua dan anak pada jangka panjang akan berpengaruh pada perkembangan pribadi anak yang kemudian hal tersebut akan memunculkan anak-anak bermasalah. Sementara itu ahli pengembangan anak yang lain Triatmoko Sapto Putro dari Yogyakarta meyakinkan bahwa kedekatan hubungan dengan mengupayakan agar saat-saat tertentu dapat diciptakan hubungan yang karib antara anak dengan orang tua merupakan cara yang paling jitu dalam mendidik anak. Bila kedekatan orang tua dengan anak sudah seperti ini maka iklim demokrasi dalam keluarga kan tercipta dan keharmonisan keluarga pasti turut tercipta.
Sebenarnya mudah kan mendidik anak? Wassalam (Nugi)
Pada masa liburan panjang, anak-anak sekolah biasanya akan mengisi waktunya dengan bermain, pergi ke tempat wisata maupun kegiatan lain yang sifatnya rekreatif. Namun tidak sedikit pula bagi anak-anak tertentu waktu liburannya justru tersita di rumah dengan bermain play station atau nonton film/TV, karena orang tuanya sibuk bekerja di luar rumah. Kondisi di mana saat anak- anak libur ternyata orang tua tetap bekerja seperti biasa mengakibatkan waktu libur yang idealnya dimanfaatkan untuk mendekatkan hubungan antara orang tua dengan anak justru terbuang sia-sia. Ada baiknya memang orang tua benar-benar berusaha meluangkan waktunya barang sesaat untuk anak-anaknya yang sedang libur sehingga kebutuhan perhatian dan afeksi dari orang tua terpenuhi. Outbond sebagai salah satu games yang mendidik dan bersifat rekreatif dapat dijadikan sarana untuk menghangatkan hubungan antara orang tua dengan anak. Dalam sehari penuh orang tua dan anak dapat terlibat langsung dalam rangkaian permaianan Outbond. Pada moment itulah hubungan orang tua dengan anak dapat cair dan akrab sehingga terkadang "batas" antara orang tua - anak menjadi terkesan samar digantikan dengan hubungan sahabat. Capai, pegal bahkan sedikit cedera seolah terlupakan begitu saja pada saat Outbond berlangsung. Kedekatan yang demikian akan menumbuhkan rasa percaya pada diri anak kepada orang tua sehingga pada gilirannya juga akan menumbuhkan sikap patuh tapi sayang kepada orang tuanya, hal ini juga dikatakan oleh pemerhati anak dari Surabaya LELY RACHMAWATI bahwa kegiatan yang melibatkan orang tua dan anak seperti halnya Outbond ditujukan Agar orang tua bersama anak-anak menjadi lebih dekat secara emosional. Selain membenagun motivasi anak, juga untuk lebih mendekatkan lagi antara orang tua dan anak. Juga untuk saling memperkenalkan antara orang tua dengan orang tua lainnya.
Seorang ahli pengembangan anak dari Klaten Sugita mengatakan, "Kecenderungan orang tua masa kini sibuk dengan beban tugas kerjanya masing-masing apalagi pada sebuah keluarga di mana kedua orangtuanya bekerja, kesempatan bercengkerama antara orang tua dengan anak menjadi suatu hal yang amat langka". Tidakterpenuhinya perhatian serta kedekatan emosional orangtua dan anak pada jangka panjang akan berpengaruh pada perkembangan pribadi anak yang kemudian hal tersebut akan memunculkan anak-anak bermasalah. Sementara itu ahli pengembangan anak yang lain Triatmoko Sapto Putro dari Yogyakarta meyakinkan bahwa kedekatan hubungan dengan mengupayakan agar saat-saat tertentu dapat diciptakan hubungan yang karib antara anak dengan orang tua merupakan cara yang paling jitu dalam mendidik anak. Bila kedekatan orang tua dengan anak sudah seperti ini maka iklim demokrasi dalam keluarga kan tercipta dan keharmonisan keluarga pasti turut tercipta.
Sebenarnya mudah kan mendidik anak? Wassalam (Nugi)
Jumat, 08 Agustus 2008
MENCETAK ANAK SUKSES : GENERASI EMAS DI MASA YANG AKAN DATANG
Judul yang ditulis di atas "Mencetak Anak Sukses" rasanya aneh, anak sukses kok dicetak...memangnya anak seperti batik, atau gambar ? Pendapat tersebut tentunya memang wajar-wajar saja karena di zaman sekarang mendidik anak ternyata bukan perkara mudah. Anak-anak yang ketika kecil menggemaskan, lucu dan menarik begitu tumbuh menjadi remaja dewasa berbalik menjadi pribadi yang menjengkelkan, ngeyel dan selalu menentang. Kondisi yang demikian diperparah dengan sikap orang tua yang tidak berbeda dengann sikap anak-anaknya yang menginjak dewasa..jadi sama-sama ngeyelnya, dan menjengkelkan ditinjau dari kedua belah pihak. Orang tua di satu pihak menginginkan anak kesayangannya patuh, alim, sopan, rajin dsb sesuai kriteria orang tua menemui kenyataan lain pada realitanya. Pada saat yang demikian orang tua menjadi frustrasi yang berdampak pada kesalahan dalam mengambil sikap kepada anak. Demi mengubah karakter anak agar sesuai dengan "selera" orang tua maka diambilnya hak otoritas sebagai orang tua untuk memaksa anak mengikuti kehendaknya dengan ancaman dan paksaan. Di lain pihak anak remaja menuju dewasa mulai merasakan bahwa dirinya bukan lagi anak-anak yang pantas untuk diperlakukan seolah bayi yang belum punya pribadi serta menentukan pilihan. Apabila kejadian seperti ini berlangsung terus menerus dalam waktu yang lama maka hampir dapat dipastikan orang tua akan kehilangan anaknya (dalam arti kedekatan secara psikologis antara orang tua dengan anak terganggu).
Pendidikan anak sejak dini merupakan kunci menuju pribadi sukses di masa dewasa. Orang tua perlu memahami kebutuhan kasih sayang dan perhatian terhadap anak sesuai dengan usia anak tersebut. Hali ini diharapkan kebutuhan kasih sayang dan perhatian dapat seiring sejalan dengan kepercayaan orang tua terhadap anak-anaknya.
Orang tua perlu memahami kelakuan anak yang tentunya dalam batas-batas kewajaran disesuaikan dengan pertambahan usia anak. Kenakalan anak-anak pada usia tertentu sebenarnya bukan cerminan seperti itulah kelak jika dia dewasa.
Beberapa ahli di Barat (baca Amerika dan Eropa) sudah mulai mengenalkan anak-anak sejak dalam kandungan suatu metode komunikasi baik dalam bentuk verbal maupun rangsangan-rangsangan yang bersifat musikal. Hal ini masih menurut para ahli cukup signifikan pengaruhnya terhadap kecerdasan dan kemampuan anak dalam beradaptasi serta merespon lingkungannya ketika anak sudah berada di dunia. Bahkan penulis telah mencoba serta menerapkan metode tersebut dan Puji Tuhan memang hal tersebut nyata.
Memulai komunikasi sejak janin masih dalam kandungan merupakan hal yang sangat perlu untuk membangun ikatan emosional baik antara anak dengan ayah maupun ibunya. Ikatan emosional ini akan tetap terasa hingga janin menjadi bayi dan tumbuh menjadi anak-anak balita bahkan ketika remaja dewasa. Hubungan batin dan jalinan komunikasi non verbal antara orang tua dengan anak seolah terjadi begitu saja dan alami. Anak seolah mengerti terhadap maksud orang tua demikian pula sebaliknya. Bila kondisi yang demikian dapat tercipta maka suatu hal yang sangat mudah proses pendidikan dilakukan kepada anak. Ketika anak suatu ketika dianggap nakal maka orang tua tidak akan melakukan tindakan yang dalam persepsi anak memposisikan diri sebagai musuh yang harus dilawan tetapi justru sebagai orang yang penuh kasih sayang, perhatian yang mengarahkan menuju kebaikan bagi dirinya.
Mendidik dengan kasih dan tanpa bentakan serta umpatan yang tak perlu kepada anak merupakan bentuk dari penghargaan orang tua terhadap anaknya. Respon anak tentunya juga kan senada dengan sikap yang diberikan oleh orang tua kepada dirinya. Namun memang kesabaran dan kerendahhatian orang tua sangat diuji dalam hal ini karena sebagaian besar orang tua sudah punya konsep tertentu bagi anak-anaknya agar menjadi orang di kelak kemudian hari dan repotnya konsep ini dipaksakan serta harus diterima oleh anak tanpa syarat. Padahal tiap anak maupun pribadi tentunya unik sehingga tidak bisa serta merta diatur sesuai dengan kemauan orang lain meskipun orang tua sekalipun.
Anak-anak yang dibesarkan denga aturan-aturan "saklek" dan kaku akan tumbuh menjadi pribadi arogan yang pemberontak, dan karakter ini akan terbawa hingga dewasa dalam kehidupan sehari-harinya. Namun anak yang dibesarkann dalam aroma kebebasan yang bertanggungjawab hampir dapat dipastikan menjadi pribadi yang toleran serta egaliter. Dalam beberapa hal kadang orang tua pelit untuk memeuji terhadap "prestasi" anak-anaknya dan justru murah dalam "mencela" kesalahan anak, celakanya juga dalam mencela dilakukan di depan orang banyak. Punishment and Reward Mechanism perlu dilakukan dalam proses pendidikan anak. Lakukan pujian terhadap segal prestasi anak dan sesekali lakukan di depan orang lain namun pada giliran melakukan hukuman/teguran lebih baik secara pribadi dengan penuh rasa tanggung jawab serta kasih sayang.
Bila kita memandang ke arah yang lebih luas rasanya orang-orang yang sekarang menjadi dewasa dengan berbagai jabatan dan kedudukan namun perilakunya tidak pantas dicontoh (dapat dilihat di berbagai mass media)adalah produk kesalahan pendidikan orang-orang tua di masa lalu. Belajar dari itu semua mari kita orang tua mencoba untuk menerapkan pendidikan yang benar agar sejarah masa kini tidak terulamng di masa yang akan datang. Ada ungkpan yang mengatakan "Pendidikan yang benar akan menghasilkan generasi yang benar, pendidikan yang salah hanya akan memperbanyak generasi sesat di zamannya". Mari kita didik anak-anak kita menjadi generasi yang sukses, kita mulai dari keluarga kita. (Nugi)
Pendidikan anak sejak dini merupakan kunci menuju pribadi sukses di masa dewasa. Orang tua perlu memahami kebutuhan kasih sayang dan perhatian terhadap anak sesuai dengan usia anak tersebut. Hali ini diharapkan kebutuhan kasih sayang dan perhatian dapat seiring sejalan dengan kepercayaan orang tua terhadap anak-anaknya.
Orang tua perlu memahami kelakuan anak yang tentunya dalam batas-batas kewajaran disesuaikan dengan pertambahan usia anak. Kenakalan anak-anak pada usia tertentu sebenarnya bukan cerminan seperti itulah kelak jika dia dewasa.
Beberapa ahli di Barat (baca Amerika dan Eropa) sudah mulai mengenalkan anak-anak sejak dalam kandungan suatu metode komunikasi baik dalam bentuk verbal maupun rangsangan-rangsangan yang bersifat musikal. Hal ini masih menurut para ahli cukup signifikan pengaruhnya terhadap kecerdasan dan kemampuan anak dalam beradaptasi serta merespon lingkungannya ketika anak sudah berada di dunia. Bahkan penulis telah mencoba serta menerapkan metode tersebut dan Puji Tuhan memang hal tersebut nyata.
Memulai komunikasi sejak janin masih dalam kandungan merupakan hal yang sangat perlu untuk membangun ikatan emosional baik antara anak dengan ayah maupun ibunya. Ikatan emosional ini akan tetap terasa hingga janin menjadi bayi dan tumbuh menjadi anak-anak balita bahkan ketika remaja dewasa. Hubungan batin dan jalinan komunikasi non verbal antara orang tua dengan anak seolah terjadi begitu saja dan alami. Anak seolah mengerti terhadap maksud orang tua demikian pula sebaliknya. Bila kondisi yang demikian dapat tercipta maka suatu hal yang sangat mudah proses pendidikan dilakukan kepada anak. Ketika anak suatu ketika dianggap nakal maka orang tua tidak akan melakukan tindakan yang dalam persepsi anak memposisikan diri sebagai musuh yang harus dilawan tetapi justru sebagai orang yang penuh kasih sayang, perhatian yang mengarahkan menuju kebaikan bagi dirinya.
Mendidik dengan kasih dan tanpa bentakan serta umpatan yang tak perlu kepada anak merupakan bentuk dari penghargaan orang tua terhadap anaknya. Respon anak tentunya juga kan senada dengan sikap yang diberikan oleh orang tua kepada dirinya. Namun memang kesabaran dan kerendahhatian orang tua sangat diuji dalam hal ini karena sebagaian besar orang tua sudah punya konsep tertentu bagi anak-anaknya agar menjadi orang di kelak kemudian hari dan repotnya konsep ini dipaksakan serta harus diterima oleh anak tanpa syarat. Padahal tiap anak maupun pribadi tentunya unik sehingga tidak bisa serta merta diatur sesuai dengan kemauan orang lain meskipun orang tua sekalipun.
Anak-anak yang dibesarkan denga aturan-aturan "saklek" dan kaku akan tumbuh menjadi pribadi arogan yang pemberontak, dan karakter ini akan terbawa hingga dewasa dalam kehidupan sehari-harinya. Namun anak yang dibesarkann dalam aroma kebebasan yang bertanggungjawab hampir dapat dipastikan menjadi pribadi yang toleran serta egaliter. Dalam beberapa hal kadang orang tua pelit untuk memeuji terhadap "prestasi" anak-anaknya dan justru murah dalam "mencela" kesalahan anak, celakanya juga dalam mencela dilakukan di depan orang banyak. Punishment and Reward Mechanism perlu dilakukan dalam proses pendidikan anak. Lakukan pujian terhadap segal prestasi anak dan sesekali lakukan di depan orang lain namun pada giliran melakukan hukuman/teguran lebih baik secara pribadi dengan penuh rasa tanggung jawab serta kasih sayang.
Bila kita memandang ke arah yang lebih luas rasanya orang-orang yang sekarang menjadi dewasa dengan berbagai jabatan dan kedudukan namun perilakunya tidak pantas dicontoh (dapat dilihat di berbagai mass media)adalah produk kesalahan pendidikan orang-orang tua di masa lalu. Belajar dari itu semua mari kita orang tua mencoba untuk menerapkan pendidikan yang benar agar sejarah masa kini tidak terulamng di masa yang akan datang. Ada ungkpan yang mengatakan "Pendidikan yang benar akan menghasilkan generasi yang benar, pendidikan yang salah hanya akan memperbanyak generasi sesat di zamannya". Mari kita didik anak-anak kita menjadi generasi yang sukses, kita mulai dari keluarga kita. (Nugi)
Langganan:
Komentar (Atom)